Friday, 9 December 2011

The Last Week by Syahrullah

21 Juli 2010, 03:27 A.M.

    "Berhenti!" teriak seseorang yang mengenakan balaklava. Ia menodongkan pistol berperedamnya dari jarak 16 meter dan mengancam akan menembak bila targetnya bertindak macam-macam. Tapi, peringatan itu diacuhkan. Targetnya terus berlari.

Tuff! Tuff! Tuff!

    Beberapa tembakan ia luncurkan. Targetnya kemudian menabrak kaca dan terguling, tapi ia bangkit dan kembali berlari ke seberang jalan menuju hutan. Pecahnya kaca di rumah itu telah mengaktifkan bunyi alarm. Sehingga dalam 5 sampai 7 menit rumah itu akan didatangi oleh petugas keamanan. Orang dengan balaklava itu juga masuk ke dalam hutan. Setelah beberapa menit terjadi aksi kejar-kejaran, ia kehilangan buruannya.


Tuuut! Handphonenya berbunyi.

    "Ya, Bos?"
    "Apa sudah kau selesaikan?" sahut seseorang di seberang sana.
    "Maaf, Bos. Saya kehilangan jejaknya. Dia sekarang bersembunyi di hutan yang ada di seberang rumahnya." jawabnya dengan tenang.
    "Selesaikan segera! Atau kau yang kubereskan!"

Klik!

    Sambungan terputus dari seberang sana. Tapi orang ini tidak langsung menyimpan handphonenya. Ia justru tetap memegangnya di telinga.

    "Ok, Bos. Saya kembali." ucapnya kemudian dengan setengah berteriak di tengah hutan yang sunyi itu. Orang itu lalu berjalan pelan dan menghilang di kegelapan.

********************

14 Juli 2010, 11:35 P.M.

    "San, bagaimana hubungan kalian? Kudengar kalian akan segera menikah. Apa itu benar?"
    "Uhuk!" orang yang bernama Hasan itu sedikit tersedak mendengarnya. "Tidak juga. Kami baru akan merencanakannya, Lex. Ya kan, Lid?"

    Seorang wanita di samping Hasan itu hanya tersenyum manis. Namanya Lidia Sari. Dia adalah seorang model yang baru naik daun beberapa bulan ini. Tubuhnya tinggi-semampai, rambutnya indah bergelombang, kulitnya putih-mulus, wajahnya yang oval kian menawan dengan bola matanya yang agak sipit dan berwarna kehijauan.

    "Bagaimana dengan hubungan kalian?" Hasan mengembalikan pertanyaan itu kepada Alex, rekan kerjanya.
    "Jangan tanyakan itu, San. Kau tahu, kan? Kami baru menjejaki tahap perkenalan." Alex melirik wanita di sampingnya.
    "Jangan menatapku seperti itu, Lex." kata wanita itu sedikit memanja. Lalu Alex dan kekasihnya itu tersenyum bersama.
    "Oh, ya. Jam berapa sekarang, Lex?" tanya Hasan. Jam tangannya ketinggalan di rumah karena berangkat dengan terburu-buru.
    "Sekarang..." ucap Alex sambil menyingkap lengan bajunya. "Sudah hampir jam 12."
    "Kalau begitu maafkan kami, Lex. Kami harus pulang duluan." ucap Hasan seraya berdiri.
    "Ya, tak apa. Kebetulan kami juga ingin pulang."

    Setelah membayar tagihan di restoran berkelas itu, mereka kemudian keluar bersama menuju parkiran.

    "Sampai jumpa, Lex!" seru Hasan dari dalam mobilnya.
    "Ya, sampai jumpa!" balas Alex seraya melambaikan tangannya.

    Lalu mobil sport klasik warna merah milik Hasan itu pun mulai menjauh.

    "Lid..." Hasan membuka percakapan di tengah perjalanan mereka. "Kenapa malam ini kau terlihat pendiam?" Lidia diam saja dan tidak menanggapi pertanyaan Hasan. "Apa kau sedang sakit, Lid?" tanyanya lagi.
    "Tidak." Lidia mulai membuka mulutnya. "Hanya saja..."
    "Katakan padaku, Lid?"
    "San..."
    "Ya?"
    "Besok aku akan ke Bandung. Kata manajerku ini adalah tuntutan profesi."

    Mobil merah itu lalu berhenti mendadak.

    "Kenapa kau baru bicara sekarang?" ucap Hasan dengan menahan amarahnya.
    "Aku baru dikabari manajerku sore tadi. Dan katanya besok dini hari aku sudah harus berangkat."

    Mobil itu kembali melaju dengan perlahan.

    "Tak bisakah ditunda dulu? Aku akan mempersiapkan kepindahanku ke divisi yang ada di Bandung."
    "Tidak." jawab Lidia singkat.

    Kemudian mobil itu melaju tanpa ada suara lagi.

********************

15 Juli 2010, 08:14 A.M.

    "Bagaimana, Lid? Apa kau sudah sampai di Bandung?" sesampainya di kantor, Hasan langsung menghubungi Lidia.
    "Ya, kami sedang dalam perjalanan menuju penginapan." suara Lidia terdengar berat.
    "Sayang, kau terdengar seperti orang yang sedang sekarat. Kau pasti tidak tidur semalaman, ya?"
    "Aku hanya kurang tidur. Oh, ya. Apa kau ingin kubawakan sesuatu dari Bandung?"

Tlililit! Telepon kantor di ruangan Hasan berbunyi.

    "Tunggu sebentar ya, Lid." Hasan mengangkat panggilan itu. Rupanya itu dari sekretarisnya. "Ada apa, Nis?"
    "Bapak Alex ingin menemui Anda, Pak." ucap Nisa.
    "Persilakan dia untuk masuk."
    "Baik, Pak."
    Hasan menutup telepon kantor itu dan kembali ke Lidia. "Maaf ya, Lid. Aku kedatangan tamu. Oh, ya. Oleh-olehnya terserah kamu saja. Aku yakin pilihan kamu selalu bagus. Sudah dulu ya, Lid. Emmuah..."
    "Apakah itu tugasmu di kantor, Sobat?" tanpa Hasan sadari, Alex sudah berada di depan mejanya.

    Hasan menutup telepon genggamnya dengan sedikit kesal karena merasa privasinya terganggu.

    "Kebiasaan kau ini, masuk tanpa mengetuk dulu!"
    Bukannya menyesal, Alex malah nyengir-nyengir. "Ya... Kita berteman sudah cukup lama, bukan? Setidaknya maklumi sajalah kebiasaan temanmu ini."
    "Ada apa, Lex? Tidak biasanya pagi-pagi kau mampir ke sini." Hasan langsung to the point karena agak kesal dengan tingkah Alex.
    "Baiklah.. Baiklah.. Aku minta maaf soal barusan."

    Wajah Hasan mulai melunak mendengar nada penyesalan dalam ucapan Alex.

    "Tapi... Seharusnya kau berterima kasih padaku. Aku bagaikan Malaikat Keberuntungan untukmu." lanjut Alex.
    Hasan mengangkat alisnya dan menatap heran dengan apa yang dimaksudkan oleh Alex. "Langsung saja, Lex!" serunya.
    "Tenang, Kawan. Sekarang pasang baik-baik telingamu. Kau mendapat tugas untuk menyambut kedatangan seorang Presiden Direktur dari Batavia Style Company."
    "Benarkah?" Hasan tiba-tiba tersentak bagai disengat listrik karena senangnya. "Apa aku akan dipromosikan menjadi eksekutif setelah itu?"
    "Ya! Sesuai yang dijanjikan oleh Presdir kita. Jika mereka menerima tawaran untuk bekerja sama dengan kita, tentunya."
    "Oh... Terima kasih, Teman. Kalau begitu, hari ini aku harus pulang cepat untuk mempersiapkan segala sesuatunya." Hasan mendadak jadi kalang kabut. "Sampai jumpa besok, Lex." ucap Hasan sebelum akhirnya ia meninggalkan Alex sendirian.
    "Dasar pemalas..." gumam Alex. "Baru juga sampai di kantor. Pagi-pagi begini apanya yang perlu dipersiapkan? Dasar..."

********************

10:05 P.M.


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan…

    Berulang-ulang Hasan mendengar kata-kata itu saat coba menghubungi Lidia.
Kemudian, "Hai, San!" akhirnya terdengar jawaban dari Lidia. "Bagaimana kerjamu hari ini?"
    "Sangat spesial. Coba tebak, kenapa?"
    "Kenapa?" kata Lidia terdengar lesu.
    "Ayolah, Lid. Tebaklah!"
    "Emm.. Selagi aku pergi.. Aku tahu! Kau pasti telah bercinta dengan sekretarismu, kan? Mengaku saja!"
    "Kau bercanda? Tentu tidak, Sayang. Kau tahu? Sebentar lagi aku akan dipromosikan untuk menjadi seorang eksekutif."
    "Benarkah?" Lidia hampir sama terkejutnya dengan Hasan saat pertama kali mendengar hal itu. "Kalau begitu, aku mau pesta pernikahan dan bulan madu kita minggu depan menjadi hari-hari yang paling fantastis."
    "Apa? Kau tidak serius, kan? Kita bahkan belum merencanakannya."
    "Ah... Benar!" Lidia terdengar geram. "Mengapa itu bisa terjadi? Itu karena kau selalu menolak dan mengalihkan pembicaraan! Huh!"
    "Lid! Lid! Lidia..!"

    Hasan tak mendengar suara apa-apa lagi. 'Salah sedikit, ngambek...' pikir Hasan sambil tersenyum maklum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

********************

16 Juli 2010, 00:45 P.M.

    "Apa Alex ada di dalam?" Hasan bertanya pada sekretaris Alex sebelum masuk ke ruangannya.
    "Iya, Pak." kata Mira, sekretaris Alex, sambil berdiri dan mengayunkan tangan kanannya untuk mempersilakan.
    "Terima kasih." ucap Hasan.

    Lalu saat Hasan masuk ke ruangan Alex, terlihat Alex sedang bicara dengan seseorang di telepon. "Tentu, Pak. Anda pasti menyukainya. Saya tahu persis seperti apa dia, sangat cantik!"..."Ya, besok saya akan ke sana. Dan.. Oh, ya. Jangan lupa untuk mentransfer uang mukanya hari ini." lalu Alex menatap Hasan yang sudah duduk manis di kursi yang ada di depannya. Tanpa memberikan kesan yang mencurigakan, Alex dengan tenang mengakhiri pembicaraan dan menutup teleponnya.

    "Siapa, Lex?" tanya Hasan dengan penuh ingin tahu.
    "Ah.. Seperti yang kau lakukan kemaren, Kawan. Ya.. Bersenang-senang sedikit dengan fasilitas telepon gratis ini." jawab Alex, tapi Hasan malah diam dan menatap heran. "Sudahlah.. Ingin tau saja, Kau. Ayo!" Alex berdiri dan mengajaknya keluar.
    "Ke mana? Aku baru sampai di sini, Lex."
    "Tentu saja menemui Tuan Efendy, Presdir Batavia Style Company yang kita bicarakan kemaren."

    Hasan berdiri dan mengikuti Alex. Mereka berjalan keluar bersama.

    "Oh, ya. Bagaimana kabar Lidia? Kapan aku akan mendapatkan undangan pernikahan kalian?" tanya Alex ketika mereka sudah melewati lobi.
    "Untuk sementara, aku belum siap untuk menikahinya." jawabnya. Ia coba mengimbangi langkah Alex menuju Romance Cafe yang berada tepat di seberang kantor mereka.

********************

10:02 P.M.

    Seperti malam-malam yang lain, Hasan begitu rindu pada kekasihnya dan tidak sabar untuk menceritakan kisahnya hari ini. Selang beberapa lama menunggu, panggilannya tidak juga diangkat oleh Lidia. Hasan begitu gelisah. Ia mondar-mandir di dalam kamarnya, lalu menghempaskan diri ke atas ranjang. 'Mungkin dia sedang sibuk.' pikir Hasan. Tiba-tiba ada SMS masuk dari Alex.

San, kau urus Presdir Efendy baik-baik, ya. Aku tak bisa membantu karena besok dan beberapa hari ke depan aku harus bertugas ke luar kota. Tapi hari Selasa nanti, aku pastikan aku sudah kembali. Ok..?


    Hasan mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia mencoba melupakan Lidia sejenak. 'Mungkin saat ini aku harus berfokus pada pekerjaanku dulu.' katanya dalam hati. Hasan merenung dan tak lama kemudian ia terlelap.

********************

17 Juli 2010, 10:36 P.M.

    Hasan kembali mondar-mandir di depan televisinya. Sama seperti malam sebelumnya, panggilan Hasan kepada Lidia tak kunjung diangkat. Lalu ia duduk di sofa, mencoba menikmati acara televisi yang sedang ditayangkan. Tapi pikirannya terlalu kalut untuk menikmati hal itu. 'Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku?' hatinya bertanya-tanya.
    Kini sudah hampir tengah malam dan Hasan masih memegangi handphonenya di telinga tanpa merasa bosan sedikit pun untuk menunggu. Tiba-tiba handphonenya terjatuh ke sofa, ia tertidur dan lupa mematikan TV.

********************

18 Juli 2010, 08:17 A.M.

    Pagi itu Hasan terbangun oleh suara TV yang masih menyala.

    "Ya, ampun. Jam berapa sekarang?"

    Hasan bangkit dari sofa menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Saat ia kembali ke ruang tengah dan hendak mematikan TV-nya yang telah menyala semalaman, sebuah tayangan berita menarik perhatiannya.


...Telah ditemukan seorang wanita di Pusat Pembuangan Sampah, Bandung, Jawa Tengah...


    Entah kenapa saat itu Hasan tertarik untuk mendengarkannya lebih lanjut. Ia pun berdiri mematung di depan TV-nya.

...Ia ditemukan dalam keadaan telanjang bulat dan sudah tidak bernyawa. Kartu tanda pengenalnya masih belum bisa ditemukan. Tetapi, menurut keterangan dari beberapa warga, dia adalah seorang model yang bernama Lidia Sari. Korban akan segera dibawa oleh Kapolres untuk diperiksa lebih lanjut...


    Seketika itu juga, sekujur tubuh Hasan terasa lemas. Dan ia pun ambruk.

********************

11:25 A.M.

    Hasan tersadar dari pingsannya. Kepalanya terasa sedikit sakit karena membentur lantai. Tak ada yang menolong atau pun membantu Hasan di rumah itu karena ia tinggal seorang diri.

Krrriiiiing! Telepon rumah yang berada tepat di samping sofa dekat Hasan tiba-tiba berdering.

    "Ya, halo?" Hasan mengangkat telepon itu dan rupanya dari ibunya Lidia.
    "Nak, apakah Lidia ada bersamamu di sana? Kau lihat berita pagi tadi, kan? Dia tidak kenapa-kenapa, kan? Dia baik-baik saja, kan?" ibunya Lidia menghujani Hasan dengan pertanyaan yang Hasan sendiri juga ingin mengetahuinya.
    "Tidak. Dia tidak bersama saya, Tante. Apa Tante belum tahu kalau Lidia pergi ke Bandung?"

    Ibunya Lidia tak bersuara lagi setelah mendengar jawaban dari Hasan.

    "Tante? Tante?" Masih tak ada jawaban. "Tante, saya akan pergi ke Bandung untuk memastikan bahwa tak terjadi apa-apa dengannya. Mohon restunya, Tante." ucap Hasan sebelum akhirnya menutup telepon dan bergegas untuk berangkat ke Bandung.

********************

09:15 P.M.

    Hasan melihat sendiri jenazah wanita itu dan ia merasa sangat terpukul.

    "Kami turut berduka, Pak Hasan." seorang polisi yang masih menemaninya mengucapkan belasungkawanya pada Hasan. Hasan diam saja. Ia masih terlihat shock, duduk termangu di kantor kepolisian itu. "Hasil dari pemeriksaan kami sementara adalah bahwa Ibu Lidia telah dibunuh dengan cara dicekik setelah sebelumnya, maaf, diperkosa. Lalu kemudian dia dibuang ke tempat dimana ia telah ditemukan." polisi itu melaporkan perkiraan kejadiannya. Mendengar hal itu, Hasan terlihat semakin terpukul. "Bapak sebaiknya istirahat di rumah saja. Biar kami yang mengurus jenazah Ibu Lidia." polisi itu kian merasa kasihan melihat keadaan Hasan.
    "Terima kasih, Pak." sahut Hasan getir. "Kalau begitu saya mohon diri."

    Hasan pergi dari kantor itu sambil menahan air matanya yang hampir pecah.

********************

10:06 P.M.

    "Halo, Tante." Hasan menelpon ibunya Lidia di tengah perjalanan pulangnya.
    "Bagaimana, Nak? Lidia baik-baik saja, kan?" tanya wanita paruh baya yang berada di seberang sana dengan lemas.
    "Tante... Itu memang Lidia, Tante."
    Wanita itu terkejut dan tak percaya dengan apa yang dikatakan Hasan, "Apa kamu yakin?"
    "Benar, Tante. Saya telah melihatnya sendiri." Hasan kemudian mendengar tangisan dari handphonenya. Mendengar hal itu, Hasan mengurungkan niatnya untuk memberitahukan mengenai apa yang terjadi pada Lidia sebenarnya.
    "Apa...kamu...tahu hal yang lainnya?" tanya wanita itu lagi dengan sesenggukan.
    "Untuk sementara ini cuma itu, Tante."
    "Terima kasih ya, Nak Hasan. Kamu sudah mau susah-susah sampai ke Bandung."
    "Itu bukan apa-apa, Tante."
    Lalu Hasan melewati sisa perjalanannya malam itu dengan penuh isak tangis. Air matanya tidak terbendung lagi. Deru mesin mobil membuat gema tangisnya tidak terdengar dalam kesunyian malam itu. Mobilnya terus melaju cepat. Dalam hatinya, ia memohon agar Tuhan mencabut nyawanya malam itu juga. Rasa getir dalam hatinya begitu perih hingga dadanya terasa sesak. Tapi, sepertinya malam itu Tuhan tidak berkehendak seperti yang diinginkan Hasan.

********************

19 Juli 2010, 02:13 P.M.

    "Hari ini saya akan kembali ke Jakarta. Terima kasih. Senang bisa bekerja sama dengan Anda, Tuan Hasan." Tuan Efendy pamit kepada Hasan seusai makan siang bersama.
    "Sama-sama, Tuan Efendy. Silahkan..." Hasan membukakan pintu mobil Tuan Efendy ketika mereka mencapai parkiran.

    Setelah mobil Tuan Efendy sudah jauh, Hasan kembali masuk ke ruangannya. Hasan duduk dan melemaskan otot-ototnya yang kaku, lalu mengambil nafas panjang. Hari ini ia merasa sangat letih karena kemaren malam ia hampir tidak tidur untuk menempuh perjalanan pulang. Wajahnya terlihat pucat.
    Masih terbayang dengan hangat wajah Lidia dalam ingatannya. Tiba-tiba ia tersenyum mengingat kenangan bersama Lidia. Namun sekejap kemudian wajahnya berubah lagi, menampakkan kesedihan dan ketakberdayaan. Ia teringat akan kejadian yang menimpa kekasihnya. Meski demikian pahitnya, tapi ia tak pernah terpikir untuk balas dendam. Ia menyerahkan semua yang di luar kendalinya kepada Sang Pencipta.

    "Tak ada yang bisa kulakukan untuk mengembalikannya." gumam Hasan lirih. Kemudian ia keluar ruangan dan pergi entah kemana. Sekretarisnya, Nisa, hanya diam ketika melihat Hasan keluar dengan raut wajah yang muram. Ia tak berani bertanya apa-apa.

********************

09:14 P.M.

    Kali ini, Hasan menikmati makan malamnya di restoran berbintang lima Indonesian Food's. Ia merasa jenuh makan di rumah dan memasak sendiri. Saat sedang bersantap, tiba-tiba ada pesan masuk dari Alex.


Aku turut berduka, Kawan. Oh, ya. Bagaimana dengan Tuan Efendy?


    Hasan membalas pesan Alex dengan seadanya.

Terima kasih, Lex. Tapi aku baik-baik saja. Dia menerima kontraknya. Dan jika kinerja kita hingga 3 tahun ke depan bagus, maka beliau akan memperpanjang kontrak itu.

     Muncul lagi pesan dari Alex.


Bagus sekali! Besok temui aku pada jam makan siang.


    Setelah membaca pesan Alex itu, Hasan membayar tagihannya dan pulang.

********************

20 Juli 2010, 00:35 P.M.

    "Apa Alex ada di ruangannya?" tanya Hasan pada Mira, sekretaris Alex. Hari ini, keadaan Hasan terlihat sudah jauh lebih baik.
    "Maaf, Pak. Pak Alex masih ada meeting sebentar. Apa ada pesan yang ingin Bapak sampaikan?"
    "Tidak. Biar kutunggu di dalam saja."
    "Jangan, Pak." tegur Mira, tapi Hasan menerobos masuk ke ruangan Alex. Tak ada orang di dalam ruangan itu.
    "Lihat!" kata Hasan sambil mengangkat bahu dan mengayunkan kedua tangannya. "Tak ada apa-apa. Kenapa kau melarangku masuk? Lagipula, Alex takkan marah."

    Mira tak dapat berkelit. Ia tak bisa membalas ucapan Hasan dan akhirnya keluar dengan wajah dipenuhi kecemasan. Lalu ia mengangkat gagang telepon dan menghubungi seseorang.
    Sementara itu, di dalam ruangan Alex, Hasan iseng duduk di kursi Alex dan mengotak-atik barang-barang yang ada di meja. Lalu ia membukai laci dan menemukan beberapa berkas kerja serta sebuah handycam.
    Ia tak tertarik dengan apa yang ada di dalam laci kecuali handycam itu. Saat ia mencoba menggunakannya untuk merekam ternyata gagal karena memori yang digunakan sudah penuh. Ia pun jadi ingin tahu rekaman apa saja yang memenuhi memori handycam itu. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat apa yang sama sekali tidak ia harapkan. Terpampang di depan matanya seorang pria dan wanita yang telanjang bulat dan sedang bergumul bagai suami-istri. Si wanita meronta-ronta dan terus memberontak, tapi ia tak berdaya melawan cengkeraman kuat si pria. Pria dan wanita itu tidak lain adalah Alex dan Lidia. Benar! Alexlah yang telah memperkosa Lidia.
    Lalu, di dalam video itu terlihat cermin yang memantulkan bayangan orang yang merekam kejadian itu. Melihat perut yang buncit itu, serta kacamata jepit emas yang terpasang di hidungnya, Hasan yakin betul bahwa orang itu tidak lain adalah manajernya Lidia.

    "Gendut sialan! Dan Alex?" ucapnya seakan tak percaya.

    Seketika itu juga, Hasan terkejut melihat Alex mendobrak masuk dengan terengah-engah.

    "Apa yang kau lakukan di ruanganku, San?" kata-katanya bernada kesal.
    "Lebih baik kau jelaskan apa yang ada di dalam sini!" Hasan mengangkat dan memperlihatkan handycam itu dengan tangan kirinya. Kemudian, Alex dengan cepat mendekati Hasan dan menyambar handycam itu. Tapi Hasan lebih cepat, ia menangkis Alex dengan tangan kanannya.
    "Aku anggap itu adalah penjelasanmu!" ujar Hasan sambil melangkah pergi.
    Alex tidak menghalangi ataupun mengejar Hasan. Tapi ia menelepon seseorang. "Ada tugas untukmu!"

********************

01:52 P.M.

    Hasan sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi setempat. Ketika ia melihat ke kaca spion, terlihat sebuah mobil yang mencurigakan. Sebuah mobil sedan dua pintu berwarna hitam mengkilat. Hasan tak tahu mobil siapa itu. Kemudian ketika ia sampai di perempatan jalan, ia membanting setir ke kanan. Mobil hitam di belakangnya juga melakukan hal yang sama. Kini Hasan mempercepat laju mobilnya karena merasa dibuntuti.
    Merasa kehadiran mereka sudah diketahui oleh Hasan, mereka lalu mengeluarkan senapan otomatis M4A1 Carbine Assault Rifle dan mulai menembaki Hasan. Hasan terkejut mendengar suara tembakan yang diiringi bunyi pecahan kaca belakang mobilnya. Orang-orang yang berada di pinggiran jalan pun tersontak kaget melihat kejadian itu dan berteriak dengan histeris. Mobil Hasan sempat oleng setelah terdengar suara tembakan itu, tapi ia berhasil kembali mengendalikan mobilnya.
    Setelah hampir sampai di kantor polisi, Hasan menarik tuas rem tangannya dan berhenti mendadak. Ia turun dari mobil dan berlari memasuki kantor polisi itu. Sedangkan orang-orang yang mengikutinya terus melaju dan kemudian menikung tajam memasuki sebuah gang.

    Hasan menghampiri salah seorang polisi. "Tangkap orang ini! Dia telah melakukan pembunuhan berencana!" ucap Hasan seraya menyerahkan kartu nama milik Alex. "Dan kuharap, besok hari sidangnya sudah siap."
    "Tunggu dulu, Pak!" ucap polisi itu ketika baru menyadari bahwa Hasan segera beranjak pergi. "Bisakah anda menjelaskan semua ini sebentar?"
    "Lakukan saja apa yang saya minta, Pak." jawab Hasan, lalu ia melangkah ke mobilnya yang agak berantakan dan pergi.

    'Video ini adalah bukti satu-satunya dan cukup kuat untuk menjebloskan Alex ke penjara dalam waktu yang lama', Hasan merenung di tengah perjalanan pulangnya. 'Tapi mengapa Alex melakukan semua ini pada Lidia? Apa ia menyukai Lidia sejak lama? Ataukah dia memiliki dendam padaku? Atau mungkinkah, dia sengaja merekam hal itu untuk...', pikirannya terhenti sejenak. Ia tak pernah menyangka akan sisi kehidupan yang lain dari sahabatnya.

    "Ah, bukan saatnya aku memikirkan hal itu." ucapnya seraya mengambil sebuah kartu nama yang bertuliskan 'Agensi Pengawal Profesional', lalu ia menghubungi nomor yang tertera di bawah tulisan itu.

    "Halo. Apa aku bisa menyewa beberapa orang?"..."Dua? Ya, baiklah."..."Aku tak punya cukup waktu untuk melakukan registrasi dan sebagainya! Kau urus itu! Nanti kubayar dua kali lipat untuk jasa mereka!"

********************

10:57 P.M.

    Setelah memasukkan mobilnya ke garasi, Hasan menemui dua orang berpakaian aneh yang kata Ucup, satpamnya yang hanya bekerja di waktu malam hari, mereka terlihat seperti anggota pasukan khusus dari pemerintahan. Seragam hitam pekat, rompi anti peluru, senapan otomatis, dan disertai dengan balaklava yang merahasiakan identitas wajah mereka, seperti itulah yang digambarkan Ucup.
    Ketika Hasan sudah memasuki ruang tamu, ia melihat dua orang itu. Persis seperti yang dikatakan satpamnya.

    "Selamat malam, Pak. Apa yang perlu kami lakukan selain melindungi Anda?" ucap salah seorang diantara kedua agen itu ketika melihat Hasan berjalan menuju ke arah mereka.
    "Aku akan beristirahat. Pastikan bahwa tak ada seorang pun yang masuk ke dalam rumah ini. Bahkan bila perlu, bunuh saja orang yang coba melewati pagar rumah ini!" jawab Hasan sambil lalu.
    "Pak!" panggil orang itu lagi. Hasan berbalik sebentar dan menatap mereka. "Tolong nyalakan semua alarm yang ada di rumah ini, Pak." katanya.
    "Tak perlu kau katakan, aku pun akan melakukannya." ucap Hasan dengan ketus dan meneruskan langkahnya.

    Setelah membersihkan diri dan menyalakan alarm di setiap sudut rumah, Hasan lalu beranjak ke kamar dan duduk di meja kerjanya. Lama ia termenung. Saat ia melihat arlojinya, jam sudah menunjukkan pukul tiga malam. Pikirannya terus melayang, merenungkan barang yang ia dapatkan siang tadi. 'Aku tahu Alex takkan menyerah semudah itu. Ia memang membiarkanku pergi siang tadi, tapi aku yakin ia punya rencana lain. Heh! Rencanamu takkan berhasil! Aku sudah menyewa jasa profesional dan siap untuk menghadapi yang terburuk!' ucap Hasan seperti berbicara pada diri sendiri.
    Tubuhnya tiba-tiba merasa kedinginan karena angin malam. Ia menengok ke kanan, terlihat jendela kamarnya terbuka lebar. Gorden kamarnya melambai-lambai tertiup angin kencang malam itu. Ia lalu menutup jendelanya. Setelah beberapa langkah kembali ke meja kerja, sebuah suara memanggil Hasan dari belakang.

    "Selamat malam, Pak!" suara itu terdengar agak parau.

    Ketika Hasan menoleh...

    "Eh! Apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau berjaga di luar." tanya Hasan dengan teramat sangat terkejut.

    Seorang agen yang barusan ia sewa berada di dalam kamarnya.

    "Tentu saja, menyelesaikan apa yang Anda mulai." ucapnya dingin. "Dan karena Anda belum tidur, saya harap Anda dapat memperlancar tugas saya ini. Bukan sebaliknya. Mempersulit dan membuat diri Anda sendiri celaka." jelasnya sambil mengeluarkan pistol yang tersarung di pinggangnya.
    "Apa maksudmu? Apa yang ingin kau lakukan dengan pistol itu? Aku yang membayarmu! Ingat!" Hasan merasa bingung bercampur panik.
    Orang itu tertawa. "Saya senang Anda membayar saya. Tapi bos saya menawarkan sepuluh kali lipat dari uang Anda. Sayang sekali..." Lalu ia memasang peredam pada pistol yang ia pegang. "Sekarang, tunjukan di mana Anda menyimpan handycam itu!"
    "Handycam apa? Sebaiknya kau sudahi sandiwara ini!"
    "Apa Anda masih belum paham juga? Anda telah salah meminta batuan. Anda tak tahu, kan? Bahwa Tuan Alex adalah pemilik dari instansi yang Anda telepon siang tadi." Mendengar hal itu, mendadak penglihatan Hasan menjadi agak buram. Kepalanya terasa berputar-putar, tapi ia coba menguasai keadaan. "Pak, Hasan! Sebaiknya Anda cepat beri tahu saya di mana handycam itu!" bentak orang itu sambil mengarahkan moncong besi ke arah Hasan.

    Hasan tak mampu lagi berkelit. Melihat pistol yang berperedam itu, ia terpaksa menurut.
    Hasan menyimpan handycam itu di dalam brankas yang berada di balik sebuah lukisan dan tertanam di dinding beton ruang tengah rumahnya. Ketika mereka berdua keluar kamar menuju ruang tengah, sebuah rencana menjalari pikiran Hasan. Bukannya menuju ruang tengah, Hasan justru membuat gerakan mendadak dan membuat orang itu terhuyung-huyung mundur ke belakang karena pukulannya.

    "Brengsek!" ucap orang itu. Setelah kembali berdiri tegak, orang itu melihat Hasan berlari menuju koridor. "Jangan bergerak! Pintunya sudah kukunci! Kau takkan bisa lari!" teriak orang itu. Hasan mendengar ancaman itu, namun terus saja berlari."Berhenti!" teriak orang itu lagi. Tapi Hasan masih berlari.

Tuff! Tuff! Tuff!

    Penjahat itu tidak tinggal diam dan beberapa timah panas pun telah diluncurkan menyerbu Hasan. Hasan pun menabrak kaca dan terguling. Alarm di rumah itu pun akhirnya menyala.
    Hasan merasa sedikit pusing. Lalu ketika ia menoleh ke depan, ke tempat dimana Ucup berjaga. Ia melihat dua sosok yang kaku tak bergerak. Ucup dan agen satunya yang ia sewa.

    "Ah...!!" Hasan merintih ketika coba untuk bangkit.

    Rupanya lengan kanan atas Hasan tertembak. Tapi ia tak peduli. Ia kembali bangkit sambil memegangi luka pada lengannya dan berlari ke hutan yang ada di seberang rumahnya.
    Merasa waktunya tak banyak karena alarm telah menyala, penjahat itu pun mengejar Hasan ke dalam hutan. Sebuah aksi kejar-kejaran pun terjadi. Tapi sayangnya kemampuan fisik Hasan tak setangguh penjahat terlatih itu. Ia mulai merasa lelah. Melihat pohon yang cukup besar, ia pun berhenti berlari dan bersembunyi. Nafasnya terputus-putus. Hasan mengintip dari balik pohon, ternyata penjahat itu juga berhenti di sekitar persembunyiannya. Jantungnya berdegup kian keras. Dan tiba-tiba Hasan melihat orang itu mengambil handphonenya. Ia mendengar orang itu berkata untuk kembali, pergi dan menghentikan perburuannya. Hasan pun merasa tenang. Ia bernafas lega. Menyandarkan diri pada batang pohon besar yang telah menyelamatkannya itu.
    Hasan melalui malam yang sangat panjang. Ia sangat lelah. Ia pun duduk bersandar di pohon itu. Kemudian ia mendengar sebuah suara. Entah suara apa, tak begitu jelas. Lalu ia merasakan angin bertiup dan masuk ke dalam kepalanya. Dan ia menggigil karena mendadak merasa dingin. Sebuah cairan mengucur deras dari kepalanya sebelum akhirnya ia tertidur lelap.

********************

21 Juli 2010, 09:52 A.M.

    Sebuah tayangan berita langsung pada pagi ini telah menggegerkan desa yang terletak di pinggiran Kota Surakarta.

...Seisi rumah berantakan. Diduga ini adalah sebuah kasus perampokan. Dugaan itu diperkuat dengan ludesnya brankas milik si Tuan Rumah, Hasan Ramdani. Memang beberapa bulan terakhir ini marak terjadi kasus perampokan. Pihak kepolisian juga telah menemukan jenazah pemilik rumah di dalam hutan yang ada di seberang rumahnya. Penyebab kematian korban disebabkan oleh peluru yang masuk melalui pelipis dan menembus kepala korban...



Download this file: PDF or JAR

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda sangat berarti...