Friday, 16 December 2011

KONSEP MENULIS CERPEN


Salam para Karadau Blogster (hehehe, kayak udah terkenal aja).. Ini adalah postingan saya menjelang final. Udah kebelet pengen posting. Daripada mandek di kepala trus ganggu pikiran, kan lebih baik saya tuangkan di sini. Kebanyakan basa-basi nih kayaknya. Udah langsung aja...

Posting kali ini saya mau memaparkan sedikit tentang konsep pembuatan cerita pendek (cerpen). Sebenarnya sih udah bejibun artikel kayak gini. Tapi saya akan mencoba meramu yang lebih sederhana, dan tentunya yang mudah di mengerti oleh balita (halah.. mau bikin konsep cerpen apa mau jadi babysitter).


Konsep dalam pembuatan cerpen ini sebenarnya enggak wajib. Ada yang nulis cerpen tanpa konsep, genjreng..!! Langsung jadi. Tapi ada juga yang mau nulis cerpen tanpa konsep, akhirnya enggak jadi-jadi. Udah nulis setengah bagian, trus baca ulang, eh..! Ternyata dirobek kertasnya karena merasa enggak bagus. Kalau yang sudah mahir bikin cerpen mungkin enggak pakai konsep juga bisa selesai nulisnya. Nah! Untuk pemula yang kayak kita-kita ini.. saya saranin sih pakai konsep. Kalau enggak, nanti cerpennya bisa ngelantur kesana-kemari dan keluar dari pokok cerita. Sebentar cerita ini, sebentarnya lagi cerita itu, begitulah pemula.. (yah, kayak postingan saya ini, ngelantur mulu. Hehehehe)..

Memang konsep ini bikin kepala kita tambah puyeng karena mesti nulis begini-begitu, mesti ngikutin konsepnya. Tapi hasilnya nanti bisa jauh lebih memuaskan, apalagi buat orang yang mau nulis cerpen science-fiction dan cerita berat sejenisnya.

Dari tadi belum mulai-mulai juga yah. Udah dulu pembukanya, kita langsung ke TKP.

KONSEP MENGARANG CERPEN

1. Klimaks
Konsep yang pertama dan yang paling utama, cari masalah. Kok, cari masalah? Lah iya. Kalau cerita tanpa masalah, untuk apa diceritakan. Orang baik-baik saja. Nah! Kita ambil contoh masalahnya adalah tentang hubungan sepasang sahabat yang melonggar. Dari sini, kita bisa mengembangkan ceritanya. Misalnya hubungan sepasang sahabat itu melonggar karena memperebutkan seorang gadis (kalau kita misalkan sepasang sahabat itu adalah laki-laki). Atau bisa juga, karena salah satu di antara kedua laki-laki itu menyukai laki-laki yang satunya, dan ia cemburu melihat sahabatnya itu bersama wanita (cerita ini tentang kasus kelainan psikis-homoseks).

Kalau sudah diketahui masalah apa yang akan dibuat dan sudah dikembangkan masalahnya, tinggal dicari bagaimana puncak masalahnya (KLIMAKS). Kalau kita ambil dari contoh di atas, mungkin klimaksnya begini :
Suatu ketika, di dalam sebuah ruangan lantai 6, pria yang memiliki kelainan ini tak dapat menahan perasaannya, hingga terbongkarlah rahasianya selama ini. Semua orang terkejut mendengarnya, begitu juga sepasang kekasih yang membuat pria itu tersiksa. Karena tak bisa menerima kenyataan, pria dengan kelainan seksual ini misalnya mengancam akan bunuh diri bila sahabatnya masih berhubungan dengan wanita itu. Sebagai laki-laki yang normal, tentu sahabatnya tidak bisa menerima ancaman itu. Tapi ia juga tidak bisa menolak karena sahabatnya itu mengancam akan bunuh diri, jika itu terjadi maka ia akan menyesali seumur hidupnya.

Dari langkah pertama ini, Anda tentunya sudah bisa membuat permasalahan cerita Anda hingga klimaksnya. (kalau enggak bisa juga, mending enggak usah nulis, hehe. Santai, Bro. Cuma becanda. Gni hari mukanya gak usah serius-serius amat. Semangat!! kayak iklan M1-50, bisa!)

2. Solusi
Kalau ada masalah, tentu ada usulan solusi untuk memecahkannya. Kalau gak ada solusi, enggak habis-habis itu cerita. Solusi di sini maksudnya adalah cara permasalahan itu diakhiri. Solusinya tidak mesti happy ending. Kalau Anda sukanya sad ending (walah, bahasa Inggris saya masih kacau), bisa saja Anda mengakhirinya dengan kematian si Pria yang punya kelainan tersebut. Kalau Anda mau akhirnya gantung juga bisa. Mungkin Anda mau melanjutkan cerita itu nantinya (cerita bersambung/cerbung), atau Anda hanya ingin membuat para pembaca penasaran dengan akhir ceritanya, tinggal Anda atur (Anda penulisnya, suka-suka Anda cerita itu mau bagaimana akhirnya. Hehehe)

Dalam penentuan solusinya, tidak hanya satu solusi. Karena itu akan membuat cerita menjadi datar. Tapi buatlah beberapa solusi, kemudian gabungkan ke dalam cerita itu. Misalnya saja, si Pria yang punya kelainan ingin bunuh diri jika sahabatnya tidak meninggalkan si wanita. Si wanita jelas tidak menerima hal itu, ia ingin tetap bersama dengan sahabat dari laki-laki yang punya kelainan seksual tadi itu. Sedangkan si Pria yang di perebutkan ini malah bingung memutuskan. Ia ingin bersama kekasih wanitanya tanpa harus membuat temannya terbunuh. Jadi bisa disimpulkan bahwa banyaknya solusi dan jenis akhir cerita itu tergantung dari keinginan karakter tokoh. Meski pilihan solusi dan endingnyga banyak, tetep aja kita harus pilih salah satu endingnya.

Dari langkah kedua, Anda pasti sudah mampu membuat cerita yang lengkap dan kualitasnya bisa dikatakan layak terbit. (hehehe, padahal pembaca posting ini bingung semua. Yu weis, nanti ditanyakan.)

Sisanya, mengenai TEMA, KARAKTER TOKOH, AMANAT, PLOT, SETTING dan juga DIALOG, bisa di tentukan setelah kedua bahan di atas (klimaks dan solusi) telah ditulis diatas kertas.

Gampang kan..? (gampang kepalamu!! hehe) Memang masih tergolong agak sulit, tapi saya rasa ini yang termudah karena kita hanya perlu mencari permasalahan dan juga pemecahannya. Konsep ini sebenarnya fleksibel (asal tulis aja, padahal gak tau juga apa artinya), bisa diterapkan ke dalam penulisan yang lain. Misalnya menulis opini, dari masalah, lalu cari solusinya. Ya, kan?

Tapi satu hal yang sering diingatkan oleh para penulis handal adalah, jangan hanya mencari tau bagaimana cara menulis. Tapi menulislah terus sambil mencari bahan. Pengalaman menulis (meskipun jelek) akan menambah kelihaian kita di masa mendatang.

Tunggu apa lagi...? Ayo menulis!



Download this file: PDF or JAR

No comments:

Post a Comment

Komentar Anda sangat berarti...